"Om Swastiastu"

Selamat datang di website resmi Desa Tihingan. Semoga dapat menyajikan informasi kepada masyarakat.

Perbekel Desa Tihingan

I Nyoman Suartika,SS

Klungkung Menari Dimeriahkan Aksi dari Sanggar Pangus dan Kapan

  • 24 Desember 2016
  • Dibaca: 325 Pengunjung
Klungkung Menari Dimeriahkan Aksi dari Sanggar Pangus dan Kapan

Aksi para seniman dari Sanggar Pangus Desa Tihingan dan Sanggar Kapan desa Kusamba mampu memukau para penikmat seni pada pagelaran Klungkung Menari Sabtu (24/12). Aksi kedua sanggar ini mampu menarik perhatian masyarakat dan para pengguna jalan yang lewat di Catus Pata Klungkung untuk berhenti dan menyaksikan pertunjukan seni yang pemainnya didominasi oleh pelajar dari tingkat SD sampai SMA/SMK.

Bupati Klungkung I nyoman Suwirta yang didampingi seluruh anggota keluarganya dan Wabup Kasta yang didampingi Ny. Sri Kasta serta jajaran SKPD pun turut hadir menyaksikan pertunjukan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan pariwisata ini.

Diawali dari penampilan Sanggar Pangus yang membawakan musik inovatif Body Percusion (Boper) yang merupakan pertunjukan seni musik, memadukan antara suara hentakan potongan batang bambu dengan suara pukulan pada tubuh sang penari. Perpaduan dua suara ini menghasilkan irama musik yang unik, yang jarang didengar masyarakat.

Sang pelatih sanggar Pangus I Made Anom Prameina, 19, asal Desa Tihinganmengatakan, dirinya membentuk kelompok musik Boper ini terinspirasi atraksi body cak kobagi dari Ubud. "Saya terinspirasi dari tari  Cak Kobagi Ubud , makanya saya tertarik untuk membentuk suatu perkumpulan boper yang personilnya siswa sekolah, di Bali hanya 2 ada body cak, di Ubud dan di Klungkung Tihingan," ujar I Made Anon Pramenia yang masih berstatus mahasiswa di ISI Denpasar.

Selain Boper, tampil pula tabuh kreasi genjek dari sanggar Kapan Desa Kusamba dengan cerita Anugrah Bhatara Baruna. Berkisah tentang keseharian masyarakat pesisir desa Kusamba yang bekerja sebagai Bendega, Pedagang ikan dan petani garam sebagai mata pencaharian untuk menghidupi keluarga. Ada yang pantang untuk dilakukan seperti mengotori laut dan pantai serta berlaku seenaknya. Hal tersebut berakibat petaka bagi warga pesisir, sehingga wargapun wajib menghaturkan sesaji untuk keharmonisan alam.

Diketuai oleh Mangku Tombleus, tabuh kreasi genjek ini diimainkan oleh sekitar 20 orang penari dan 10 orang penabuh. Dalam pertunjukan ini juga dihiasi dengan lawakan segar dari sejumlah pemainnya yang didominasi para pelajar sehingga Bupati Suwirta dan ratusan penonton yang hadir pun dibuat tertawa. Pertunjukan pun semakin hidup karena diiringi gemulai gerakan dan warna warni air mancur berirama di depan Monumen Puputan Klungkung.

  • 24 Desember 2016
  • Dibaca: 325 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita